Minggu, 25 Mei 2014

Sepercik Harapan part II

“Eh gue belum ngerjain pr pelajaran Akuntansi nih, lo udah yu?” Tanya ku kepada Ayu yang pada saat itu adalah teman sebangku ku.
“Hem udah sih tapi banyak yang gue nggak ngerti, jadi gue lewatin gitu aja deh. Nih!” Jawab ayu sambil memberikan buku tugas nya kepadaku.

Aku langsung mengerjakan dengan sangat terburu-buru, karena mata pelajaran Akuntansi ada di jam pertama. Ternyata bolpoin yang aku gunakan saat itu habis dan tak lama aku segera bergegas ke Koperasi sekolah yang berada di lantai satu. Sesampainya di Koperasi sekolah, aku langsung menuju ke tempat bolpoin dan langsung membayarnya di kasir. Tak sadar ada seorang teman ku dari jurusan lain yang memanggilku, tetapi aku tak menghiraukannya karena mengingat beberapa menit lagi aku harus berada di kelas dengan pr yang sudah aku selesaikan.

Jam pelajaran pertama dan kedua telah berakhir. Anak-anak pun bersorak, layaknya terbebas dari suatu masalah. Yappp begitulah kiranya pelajar yang mendengar pelajaran kosong setelah pelajaran pertama dan kedua. Berbagai macam aktivitas pun dikerjakan para siswa/siswi di kelas ini. Ada yang tidur entah semalam suntuk harus begadang, ada pula yang memasang earphone dengan volume full supaya tak ada lagi yang terdengar selain lagu yang ia putar, ada juga yang bermain True Or Dare bersama setengah isi kelas. Saat itu aku bersama segerombolan anak yang bermain True Or Dare. Cara permainan itu sangatlah mudah, semua orang yang terlibat dalam permainan tersebut harus membentuk satu lingkaran dengan tak ada celah. Setelah membentuk satu lingkaran kami langsung memutar botol minuman ringan apa saja. Kami menunggu sampai botol tersebut berhenti berputar dan menunjuk ke salah seorang yang dijadikan sebagai target dan harus memilih True Or Dare dalam permainan tersebut.

Botol itu menjatuhkan pilihan targetnya pada Cahaya. Cahaya bingung harus memilih True Or Dare, akhirnya dia memutuskan untuk jujur yaitu True. Berbagai macam pertanyaan pun dilontarkan teman-teman yang ikut serta dalam permainan tersebut. Salah satu pertanyaan yang harus Cahaya jawab jujur adalah...

“Apakah kamu suka dengan salah seorang yang ada di kelas kita ya?” Tanya salah satu teman ku.

Cahaya bingung harus menjawab apa, karena itu adalah suatu hal yang sifatnya privasi. Tapi apa boleh buat, ini hanyalah permainan. Di awal permainan, kami sudah setuju untuk tidak memberitahukan kepada teman yang lain yang tidak ikut serta dalam permainan ini.

“Aduh.....mampus gue! Sumpah parah! gue bingung harus jawab apa ke kalian. Tapi setelah ini orang yang gue sebut namanya harus biasa aja ya sama gue.” Jawab Cahaya dengan wajah memerah.

“Iyaaaaaaaa...............” Dengan kompak kami menjawabnya.

“Sebenernya sejak pertama kali gue masuk di kelas ini emang ada satu orang yang gue kagumin. Dia adalah........ ah! Tapi gue malu sumpah.“ Sahut Cahaya yang menahan jawabannya sejenak.

“Ihhhh siapa sih ya? Kita kepo nih. Udah nggak apa-apa bilang aja ke kita, lagian ini kan cuma permainan hehehe.” Jawabku agak memaksa.

“Iya cahaya, bener tuh kata Nisa. Buruan bilang aja yaaa!” Teriak Ridi.

“Huhhhh iyaiya nih gue jawab. Dia itu ada sama-sama di permainan ini, namanya.........Ahmad.” Jawab Cahaya dengan muka yang lebih memerah, kali ini tepat seperti kepiting rebus.

Semua anak-anak pun terkejut mendengarnya, terlebih Ahmad karena dia yang selama ini diam-diam tersimpan di hati Cahaya. Rahasia yang selama ini Cahaya kubur dan tak ingin ada seorang pun yang tahu apalagi Ahmad, orang yang selama ini dikaguminya di kelas akhirnya telah mengetahuinya. Permainan pun dilanjutkan, sekarang saat nya botol tersebut menuju kepada Bahru. Dan dia lagi-lagi harus memilih True Or Dare. Kali ini tetap pada pilihan jujur. Pertanyaan nya adalah...

“Kamu lagi deket sama siapa sih di kelas ini? Terus ada perasaan nggak sama cewe yang lagi deket sama kamu sekarang ini?” Tanya Aqila.

Pertanyaan yang membuat aku sedikit tidak nyaman. Beberapa teman menyuruhnya langsung menjawab pertanyaan tersebut dengan jujur tanpa ada basa-basi. Dengan muka memerah Bahru pun menjawab...

“Gue lagi deket sama.......Nisa. Perasaan gue deket sama dia hmmm seneng.” Jawabnya dengan lantang sambil melihat ke arah ku.

“Oalah ini tohhhh, ciyeeeee hahahaha muka kalian jadi merah gitu sekarang.” Seru anak-anak yang langsung meledek aku dan Bahru.

Rasanya aku terkena heart attack saat itu. Sekarang seluruh teman sekelas ku jadi tahu kalau aku dan Bahru dekat. Bel istirahat pertama sudah terdengar, lalu kita semua mengakhiri permainannya. Anak laki-laki terus saja meledek aku dan Bahru, beberapa juga meledek Cahaya dan Ahmad. Tetapi karena aku hanya menganggapnya sebatas teman, jadi aku tidak menghiraukannya. Seluruh siswa/siswi penjuru sekolah bergegas untuk mencari makanan. Ada yang sengaja membawa bekal dari rumah, ada pula yang harus ke kantin untuk membeli makanan yang akan ia makan selama istirahat pertama.

            Kriiiingggggggggggg... Bel masuk pun berbunyi. Sekarang adalah pelajaran Bahasa Inggris yang diajarkan oleh wali kelas ku. Beliau agak telat memasuki ruangan kelas, dan seperti biasa anak-anak mulai sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Tak lama kemudian wali kelas yang juga guru Bahasa Inggris pun datang.

            “Assalamualaikum, selamat pagi anak-anak.”

            “Pagi pakkkk!” Jawab seisi kelas dengan suara lantang.
           
            Seperti biasa sebelum masuk kelas biasanya beliau memberi arahan tentang koordinasi kelas kami. Tak terasa satu jam pelajaran pun telah selesai. Terlihat wajah anak-anak yang tidak enak dipandang. Akhirnya wali kelas kami menanyakan kepada kami dan meminta agar kami mengeluarkan selembar kertas kosong.

“Bapak lihat di wajah kalian banyak sekali masalah. Oke coba sekarang keluarkan selembar kertas terbaik yang kalian punya!” Pintanya kepada kami.

Anak-anak langsung mencari kertas terbaik permintaan wali kelas kami tersebut. Setelah  semua siap dengan kertasnya, ada satu permintaan lagi darinya.

“Sekarang kalian tuliskan masalah apa saja yang sedang kalian hadapi. Sesulit apapun masalah itu harus kalian tuliskan. Jangan sampai teman sebangku kalian tahu apa yang kalian tuliskan. Semuanya konsentrasi dengan kertas nya masing-masing ya nakkk. Hanya kamu, bapak dan Tuhan yang tahu. Dan jika bapak menemukan solusi dari masalah kalian tersebut, insyaAllah akan bapak bantu selesaikan.” Jelasnya.

Kebetulan memang aku sedang mengalami masalah dalam percintaan ku. Aku langsung menuliskannya~

Saat ini aku sudah punya pacar, dia adalah Bagus. Kami jadian sejak aku menduduki bangku SMP. Sampai sekarang kami masih menjalin hubungan, walaupun berbeda sekolah. Saat ini aku adalah siswi SMK dan ia adalah salah satu siswa SMA Negeri di Jakarta. Kami mulai ada masalah sejak sekolah kami berbeda, dengan kesibukan masing-masing aku dan Bagus menjadi jarang mempunyai waktu untuk bertemu. Komunikasi pun hanya seperlunya. Aku mengerti karena kita sudah berbeda sekolah tidak seperti dahulu saat kami masih duduk di bangku SMP, dimana kita selalu pergi bersama dan menghabiskan waktu bersama-sama.
Lalu saat ini ada Bahru teman sekelasku yang selalu memberikan semua perhatiannya kepadaku. Mulai dari kami yang selalu belajar bersama, dan ia selalu membantu ku jika aku mengalami kesulitan dalam pelajaran sekolah. Hingga pernah sesekali saat beberapa anak bermain di rumah Aqila, yang saat itu aku sedang ada kegiatan ekstrakulikuler di sekolah. Bahru datang untuk menjemputku di sekolah dan langsung beranjak pergi ke rumah Aqila. Setelah puas bermain dengan sebagian anak sekelas ku, Bahru lah orang yang mengantarku pulang. Di hari-hari berikutnya aku dan Bahru semakin dekat, dia lah orang yang selalu ada untuk mengisi kekosongan ku saat itu. Apakah ini sebuah ujian kesetiaan terhadapku?


∞∞

Tidak ada komentar:

Posting Komentar