Jumat, 08 Agustus 2014

Sepercik Harapan part III

*Kriiiiinnnnnnnggggggg
            Bel menandakan pulang sekolah terdengar sangat nyaring di telinga. Seluruh siswa/siswi SMK Harapan pun segera meninggalkan sekolah, tetapi bagi sebagian anak ada yang tetap berada di sekolah untuk mengikuti kegiatan ekstrakulikuler. Saat itu ekstrakulikuler Basket, Paskibra dan Karawitan yang sedang latihan di sekolah. Ada pula beberapa anak yang sibuk mencari wi-fi di depan ruang Tata Usaha.
            Aku adalah salah satu siswi yang aktif dalam kegiatan Paskibra dan Vocal Group, sore ini jadwal yang harus aku ikuti adalah ekstrakulikuler Paskibra. Latihan dilaksanakan setelah sholat ashar hingga pukul 17.00 WIB, dan setelah itu para siswa diwajibkan meninggalkan sekolah. Kalaupun masih ada yang membandel, satpam sekolah terpaksa harus menertibkan nya.

            “Nis lo pulang sama siapa?” Tanya Syifa salah satu teman satu ekskul ku.
            “Hmm gue kayaknya pulang sendiri deh syif, lo bareng anak-anak kan?” Seruku.
            “Iya nih nis, lo mau bareng kita nggak ke depan gang sekolah?” Sahutnya.
            “Okdeh!” Jawabku dengan suara lantang.

            Akhirnya kami berjalan santai hingga keluar gang sekolah. Karena aku dan temanku tidak satu arah, jadi aku harus pulang sendiri. Beberapa lama kemudian angkutan umum yang akan mengantarku pulang pun tiba. Saat di perjalanan aku bermain game sambil mengenakan headset di telinga, supaya tidak terasa bosan. Saat sedang asyik bermain, ternyata sudah sampai di gang rumah ku. Aku segera turun dan membayar kepada pak supir.  Butuh waktu 10 menit berjalan dari gang sampai benar-benar tiba di rumah.

            “Assalamualaikum ibuuuuuu” Seruku sambil mencium tangan ibu.
            “Waalaikumsalam, langsung ganti baju ya sayang.” Pintanya.
“Iyaaa bu! Oiya kalau ada yang mencariku, bilang aja aku lagi ngerjain PR sekolah ya bu. Yaudah aku ke kamar dulu ya bu. mwaaahhhh” Jawabku sambil mencium keningnya.
“Iya sayang, jangan lupa makan dulu ya!” Seru nya.
“Iyaaaaa bu.” Sambil berlari ke kamar.

Beberapa jam kemudian dan tugas ku akhirnya selesai. Tetapi aku tetap tidak beranjak dari kamar. Mendengarkan musik dan bermain gitar di kamar adalah hobby ku sejak menjadi siswi SMK Harapan. Jika sudah bosan di kamar aku langsung ke ruang TV bersama ayah dan ibu ku. Saat sedang asyik nonton acara TV, jika sudah saatnya ayah dan ibu selalu mengingatkan ku untuk kembali ke kamar. Karena pukul 21.00 WIB adalah waktu tidur ku setiap harinya.

“Jangan lupa siapkan pelajaran untuk besok ya sayang. Ingat loh minggu depan kamu sudah ulangan akhir semester, jadi jaga kesehatan ya!” Pinta ibu kepadaku.
            “Iyaaa bu. Aku udah minum vitamin kok tadi setelah sholat.” Jelasku.
           
*Satu minggu kemudian~
Hari senin ini tidak ada upacara bendera seperti yang biasa dilakukan oleh SMK Harapan. Yaaapppss karena hari ini adalah ulangan akhir semester. Aku duduk bersama kakak kelas di jurusan Pemasaran, ia bernama Ilham. Satu ruangan di kelas tersebut hanya ada kelas X jurusan Akuntansi dan kelas XI jurusan Pemasaran. Tepat di barisan pertama paling pojok adalah tempat ku dan kak Ilham.
Seperti seorang pelajar biasa, banyak anak-anak yang bertanya kesana kemari demi mendapatkan kunci jawaban yang benar. Tetapi aku takut untuk melakukan itu, karena posisi duduk ku paling depan. Akhirnya aku berusaha untuk mengerjakan semua ulangan akhir semester dengan kemampuan ku. Tak sadar ada kakak kelas yang selalu memperhatikan ku. Dia berada di barisan ketiga bangku kedua. Tetapi tetap aku tak menghiraukannya.
UAS hari pertama sudah terlewatkan. Tepat setelah bel berbunyi aku segera meninggalkan ruangan kelas dan beranjak keluar dari sekolah. Aku pulang bersama Ayu, teman satu jurusan sekaligus satu arah denganku. Setelah sampai di gang, kami pun berjalan sambil membahas soal yang kami rasa sulit untuk dikerjakan. Beberapa saat kemudian, selagi berbincang ada seseorang yang tiba-tiba memanggil ku.

“Deeeekkk..Deeekkkk!!” Panggilnya.
            “Saya kak?” Sambil menengok dan menunjuk ke arahku sendiri.
            “Iya elo! Eh lo anak Harapan juga ya? Rumah lo dimana?” Tanya kakak kelas itu.
            “I...iya kak aku anak SMK Harapan. Rumah aku Jl. Mawar kak.” Jawabku gugup.
“Oalah kenalin nama gue Neo anak Harapan juga, kita sekelas kok pas ujian semester ini. Masa lo nggak tau sih?” Jawabnya.
“Ohh aku gatau kak hehe.” Sahutku.
“Dasaaar hahaha yaudah gih pulang, hatihati di jalan ya dek!” Pintanya.
“Hmm iya kak, aku duluan ya kak.” Jawabku.

*Sambil melanjutkan berbincang dengan Ayu~

“Itu siapa deh Yu? Lo kenal dia?” Tanya ku dengan wajah penasaran.
“Enggak. Gue kan nggak sekelas sama dia, lo kali yang sekelas. Masa lo nggak tau dia deh Nis?” Jawabnya.
“Serius gue beneran nggak kenal sama dia Yu. Ah udahlah biarin aja, nggak penting juga yakan hahaha.” Kata ku sambil bercanda.

Setibanya di rumah, tiba-tiba terdengar bunyi SMS di Handphone ku. Tetapi aku tidak menghiraukannya. Aku pun langsung ganti baju, sholat dan makan, karena cacing di perutku sudah tidak bisa berkompromi lagi. Setelah menghabiskan semua makanan, aku segera ke kamar untuk membaca SMS yang tadi belum sempat aku baca. Dan ternyata dari kak Neo.

“Hi.. Nisa lagi ngapain? Ini gue Neo. Gue dapet nomer lu dari Ivan temen lu. Nggak apa-apa kan kalo gue sms lu?” Isi pesan yang aku baca.
“Ohh hi juga kak Neo. Baru aja selesai makan nih. Oalah iya kak gapapa kok.” Balasku.

Sejak saat itu aku dan kak Neo menjadi dekat. Dia mulai mendekatiku di sekolah bahkan di luar sekolah. Karena rumah kami satu arah, dia pun sering mengantar dan menjemputku pulang saat aku ada kegiatan ekstrakulikuler. Tetapi aku tak pernah menganggap kebaikannya lebih. Karena aku hanya menganggapnya sebagai kakak kelas ku.
Saat ini memang aku sudah memutuskan hubungan aku dengan Bagus. Saat ini aku sedang tidak ingin ada hubungan serius dengan siapapun. Rasa kecewa yang aku dapati saat berpacaran dengan Bagus adalah alasan mengapa saat ini aku masih sendiri. Tetapi sekarang aku merasa sangat bahagia bersama teman-teman dan para sahabat yang selalu ada untukku. Menurutku, lebih baik sendiri bersama orang-orang yang kita sayangi dan menyayangi kita, dari pada berdua tetapi selalu membuat hati kecewa.


∞∞

Minggu, 25 Mei 2014

Sepercik Harapan part II

“Eh gue belum ngerjain pr pelajaran Akuntansi nih, lo udah yu?” Tanya ku kepada Ayu yang pada saat itu adalah teman sebangku ku.
“Hem udah sih tapi banyak yang gue nggak ngerti, jadi gue lewatin gitu aja deh. Nih!” Jawab ayu sambil memberikan buku tugas nya kepadaku.

Aku langsung mengerjakan dengan sangat terburu-buru, karena mata pelajaran Akuntansi ada di jam pertama. Ternyata bolpoin yang aku gunakan saat itu habis dan tak lama aku segera bergegas ke Koperasi sekolah yang berada di lantai satu. Sesampainya di Koperasi sekolah, aku langsung menuju ke tempat bolpoin dan langsung membayarnya di kasir. Tak sadar ada seorang teman ku dari jurusan lain yang memanggilku, tetapi aku tak menghiraukannya karena mengingat beberapa menit lagi aku harus berada di kelas dengan pr yang sudah aku selesaikan.

Jam pelajaran pertama dan kedua telah berakhir. Anak-anak pun bersorak, layaknya terbebas dari suatu masalah. Yappp begitulah kiranya pelajar yang mendengar pelajaran kosong setelah pelajaran pertama dan kedua. Berbagai macam aktivitas pun dikerjakan para siswa/siswi di kelas ini. Ada yang tidur entah semalam suntuk harus begadang, ada pula yang memasang earphone dengan volume full supaya tak ada lagi yang terdengar selain lagu yang ia putar, ada juga yang bermain True Or Dare bersama setengah isi kelas. Saat itu aku bersama segerombolan anak yang bermain True Or Dare. Cara permainan itu sangatlah mudah, semua orang yang terlibat dalam permainan tersebut harus membentuk satu lingkaran dengan tak ada celah. Setelah membentuk satu lingkaran kami langsung memutar botol minuman ringan apa saja. Kami menunggu sampai botol tersebut berhenti berputar dan menunjuk ke salah seorang yang dijadikan sebagai target dan harus memilih True Or Dare dalam permainan tersebut.

Botol itu menjatuhkan pilihan targetnya pada Cahaya. Cahaya bingung harus memilih True Or Dare, akhirnya dia memutuskan untuk jujur yaitu True. Berbagai macam pertanyaan pun dilontarkan teman-teman yang ikut serta dalam permainan tersebut. Salah satu pertanyaan yang harus Cahaya jawab jujur adalah...

“Apakah kamu suka dengan salah seorang yang ada di kelas kita ya?” Tanya salah satu teman ku.

Cahaya bingung harus menjawab apa, karena itu adalah suatu hal yang sifatnya privasi. Tapi apa boleh buat, ini hanyalah permainan. Di awal permainan, kami sudah setuju untuk tidak memberitahukan kepada teman yang lain yang tidak ikut serta dalam permainan ini.

“Aduh.....mampus gue! Sumpah parah! gue bingung harus jawab apa ke kalian. Tapi setelah ini orang yang gue sebut namanya harus biasa aja ya sama gue.” Jawab Cahaya dengan wajah memerah.

“Iyaaaaaaaa...............” Dengan kompak kami menjawabnya.

“Sebenernya sejak pertama kali gue masuk di kelas ini emang ada satu orang yang gue kagumin. Dia adalah........ ah! Tapi gue malu sumpah.“ Sahut Cahaya yang menahan jawabannya sejenak.

“Ihhhh siapa sih ya? Kita kepo nih. Udah nggak apa-apa bilang aja ke kita, lagian ini kan cuma permainan hehehe.” Jawabku agak memaksa.

“Iya cahaya, bener tuh kata Nisa. Buruan bilang aja yaaa!” Teriak Ridi.

“Huhhhh iyaiya nih gue jawab. Dia itu ada sama-sama di permainan ini, namanya.........Ahmad.” Jawab Cahaya dengan muka yang lebih memerah, kali ini tepat seperti kepiting rebus.

Semua anak-anak pun terkejut mendengarnya, terlebih Ahmad karena dia yang selama ini diam-diam tersimpan di hati Cahaya. Rahasia yang selama ini Cahaya kubur dan tak ingin ada seorang pun yang tahu apalagi Ahmad, orang yang selama ini dikaguminya di kelas akhirnya telah mengetahuinya. Permainan pun dilanjutkan, sekarang saat nya botol tersebut menuju kepada Bahru. Dan dia lagi-lagi harus memilih True Or Dare. Kali ini tetap pada pilihan jujur. Pertanyaan nya adalah...

“Kamu lagi deket sama siapa sih di kelas ini? Terus ada perasaan nggak sama cewe yang lagi deket sama kamu sekarang ini?” Tanya Aqila.

Pertanyaan yang membuat aku sedikit tidak nyaman. Beberapa teman menyuruhnya langsung menjawab pertanyaan tersebut dengan jujur tanpa ada basa-basi. Dengan muka memerah Bahru pun menjawab...

“Gue lagi deket sama.......Nisa. Perasaan gue deket sama dia hmmm seneng.” Jawabnya dengan lantang sambil melihat ke arah ku.

“Oalah ini tohhhh, ciyeeeee hahahaha muka kalian jadi merah gitu sekarang.” Seru anak-anak yang langsung meledek aku dan Bahru.

Rasanya aku terkena heart attack saat itu. Sekarang seluruh teman sekelas ku jadi tahu kalau aku dan Bahru dekat. Bel istirahat pertama sudah terdengar, lalu kita semua mengakhiri permainannya. Anak laki-laki terus saja meledek aku dan Bahru, beberapa juga meledek Cahaya dan Ahmad. Tetapi karena aku hanya menganggapnya sebatas teman, jadi aku tidak menghiraukannya. Seluruh siswa/siswi penjuru sekolah bergegas untuk mencari makanan. Ada yang sengaja membawa bekal dari rumah, ada pula yang harus ke kantin untuk membeli makanan yang akan ia makan selama istirahat pertama.

            Kriiiingggggggggggg... Bel masuk pun berbunyi. Sekarang adalah pelajaran Bahasa Inggris yang diajarkan oleh wali kelas ku. Beliau agak telat memasuki ruangan kelas, dan seperti biasa anak-anak mulai sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Tak lama kemudian wali kelas yang juga guru Bahasa Inggris pun datang.

            “Assalamualaikum, selamat pagi anak-anak.”

            “Pagi pakkkk!” Jawab seisi kelas dengan suara lantang.
           
            Seperti biasa sebelum masuk kelas biasanya beliau memberi arahan tentang koordinasi kelas kami. Tak terasa satu jam pelajaran pun telah selesai. Terlihat wajah anak-anak yang tidak enak dipandang. Akhirnya wali kelas kami menanyakan kepada kami dan meminta agar kami mengeluarkan selembar kertas kosong.

“Bapak lihat di wajah kalian banyak sekali masalah. Oke coba sekarang keluarkan selembar kertas terbaik yang kalian punya!” Pintanya kepada kami.

Anak-anak langsung mencari kertas terbaik permintaan wali kelas kami tersebut. Setelah  semua siap dengan kertasnya, ada satu permintaan lagi darinya.

“Sekarang kalian tuliskan masalah apa saja yang sedang kalian hadapi. Sesulit apapun masalah itu harus kalian tuliskan. Jangan sampai teman sebangku kalian tahu apa yang kalian tuliskan. Semuanya konsentrasi dengan kertas nya masing-masing ya nakkk. Hanya kamu, bapak dan Tuhan yang tahu. Dan jika bapak menemukan solusi dari masalah kalian tersebut, insyaAllah akan bapak bantu selesaikan.” Jelasnya.

Kebetulan memang aku sedang mengalami masalah dalam percintaan ku. Aku langsung menuliskannya~

Saat ini aku sudah punya pacar, dia adalah Bagus. Kami jadian sejak aku menduduki bangku SMP. Sampai sekarang kami masih menjalin hubungan, walaupun berbeda sekolah. Saat ini aku adalah siswi SMK dan ia adalah salah satu siswa SMA Negeri di Jakarta. Kami mulai ada masalah sejak sekolah kami berbeda, dengan kesibukan masing-masing aku dan Bagus menjadi jarang mempunyai waktu untuk bertemu. Komunikasi pun hanya seperlunya. Aku mengerti karena kita sudah berbeda sekolah tidak seperti dahulu saat kami masih duduk di bangku SMP, dimana kita selalu pergi bersama dan menghabiskan waktu bersama-sama.
Lalu saat ini ada Bahru teman sekelasku yang selalu memberikan semua perhatiannya kepadaku. Mulai dari kami yang selalu belajar bersama, dan ia selalu membantu ku jika aku mengalami kesulitan dalam pelajaran sekolah. Hingga pernah sesekali saat beberapa anak bermain di rumah Aqila, yang saat itu aku sedang ada kegiatan ekstrakulikuler di sekolah. Bahru datang untuk menjemputku di sekolah dan langsung beranjak pergi ke rumah Aqila. Setelah puas bermain dengan sebagian anak sekelas ku, Bahru lah orang yang mengantarku pulang. Di hari-hari berikutnya aku dan Bahru semakin dekat, dia lah orang yang selalu ada untuk mengisi kekosongan ku saat itu. Apakah ini sebuah ujian kesetiaan terhadapku?


∞∞

Kamis, 06 Maret 2014

Sepercik Harapan part I

Prolog : Di tengah keramaian taman disore hari, aku duduk dengan membawa boneka yang kau berikan dulu. "Cayin" ya itulah nama panggilannya. Angin berhembus dan semakin erat pelukanku untuk boneka cantik ini. Mengingat setiap tawa, canda dan duka yang pernah kita lewati bersama. Saat itu terasa dunia adalah milik kita:') sahabatku.....
Walaupun banyak rintangan yang terkadang mendekat, namun dengan keikhlasan, kepercayaan dan keyakinan yang tulus akan keabadian persahabatan. Sehingga kita dapat berdiri dengan kokoh seperti saat ini. Semoga dengan Sepercik Harapan yang selalu menemani setiap langkah dan dengan doa abadi yang selalu melekat di hati, kita akan tetap dengan satu tujuan yaitu “Kesuksesan di Masa Depan”.

"assalamualaikum." seru ku sewaktu memasuki ruangan kelas. "waalaikumsalam" jawab sebagian teman-teman yang mendengar suaraku.

Saat itu ada tugas yang diberikan oleh guru pelajaran matematika. "kak lo udah ngerjain pr?" tanya caysie kepadaku. "udah kok, tapi masih ada yang belum" jawabku. Kami pun tak memperhatikan pr itu, karena teman kami yang bernama indah sedang dalam perjalanan ke sekolah membawakan sesuatu untuk kami. "nis, coba deh lu sms indah. tanya dia ada dimana? Katanya sih dia mau bawain sesuatu buat kita haha” seru Aqila.

“halloooo, sorry inong telat. Ini buat kalian.” Sapa indah sambil memberikan 4 ice cream conello coklat kepada kami. “makasih inoooong.” Seruku, caysie dan aqila sambil merebut ice cream itu dari genggamannya. Sebelum ice cream itu benar-benar habis, kami pun tak lupa untuk mendokumentasikannya.

Bel masuk pun berbunyi, kringgggggg…
Seluruh siswa/siswi smk itu pun memulai aktifitasnya untuk belajar. Hingga waktu pulang pun tiba. Seluruh penghuni smk itu satu persatu keluar dari sekolah. Tapi tidak untuk para segerombolan siswa/siswi ini. Sebenarnya aku dan temanku ingin membiasakan apa yang sudah biasa terjadi di smp dulu. Jika saatnya pulang kami tak langsung pulang, melainkan duduk-duduk sambil ngobrol sampai kami dipaksa untuk pulang. Ya memang kelihatannya tidak baik, tapi menurut kami kebiasaan ini memberikan kebahagiaan tersendiri.
Ya itulah yang kami lakukan sebelum pulang. Aku, caysie, indah, satrio, ridi, ahmad, anto, bahru, dan gemilang duduk dilapangan saat seluruh isi sekolah sudah hampir sepi. Hanya tampak anak-anak ekskul dan anak OSIS yang masih ada di sekolah.

“hai, kenapa kalian masih ada disini?” Ujar salah satu kakak kelas kita yang kebetulan menjabat sebagai ketua MPK di sekolah dan sekaligus kakak kelasku semasa smp. “iya ka, nanti kita pulang, kita masih pengen di sekolah. Kaka mau gabung?” Jawab ridi. “kalo kaka gabung, nanti jadi kayak reonian smp kita dulu dong. Engga deh kaka pulang duluan ya” Jelasnya.

Kami melanjutkan berbincang-bincang di tengah lapangan sekolah. Saat kami berbincang-bincang tak ada rasa jenuh ataupun bosan. Tak terasa hari semakin sore, kami memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing.

Bulan demi bulan kita lewati bersama. Tiba saatnya salah satu dari kami harus pergi untuk melaksanakan prakerin. Saat itu sangat berat bagi ku untuk berpisah dengannya walaupun hanya 3 bulan lamanya. Seperti janji yang pernah kita ucapkan bersama, bahwa kita akan selalu bersama dan selalu ada ketika yang lain dari kita membutuhkannya.

Tepat seminggu saat teman kami pergi untuk pkl, kami ada tugas krlompok yang harus diselesaikan bersama. Terdengar suara handphone ku berbunyi.

“kak lo dimana?” from caysie.
“gue udh otw nih. Janjian di aliks yaa..” jawab ku.
“oke hati-hati di jalan ya ka:*” balasnya.
“sipdeh, lu juga yaa;)” dariku.

Setelah 10 menit berlalu, akhirnya aku dan caysie bertemu di tempat janjian kita tadi. Tak lama kami pun beranjak ke rumah aqila. Baiklah seperti aqila yang kami kenal, saat liburan dia jarang sekali mandi pagi. Aqila menyambut kita dengan senyum diwajahnya.

            “eitsss...tunggu dulu, Indah mana nih?” kata aqila agak kesal.
“mungkin lagi dijalan kali, kayak baru kenal aja lo sama doi hahaha” nisa menjawab sambil bercanda.
“hahaha bener tuh kakak! kalo jam segini Indah udah dateng, gue kasih applouse deh buat dia.” seru caysie.

Akhirnya kita memutuskan untuk tidur siang terlebih dahulu sambil menunggu Indah yang tak kunjung datang. Well setelah setengah jam kami merasa puas berbaring lelap dan yang ditunggu pun tiba.

            “Assalamualaikummmm” seru Indah.
            “Waalaikumsalam, eh Indah kok baru datang nak?” jawab mamah Aqila.
“Iya maaf tante akunya telat, tadi disuruh bebenah rumah dulu. Biasalah tante mamah kan berangkat terlalu pagi jadi aku yang harus bebenah semua isi rumah” timpalnya.
“Ohhh gitu, yaudah gih langsung aja ke kamar Aqila ya, udah ada Emce sama Caysie juga kok” menyuruh dengan senyuman mautnya.

Dengan nafas yang masih sulit diatur, indah pun bergegas ke kamar Aqila untuk menemui para sahabatnya. Ternyata dia punya cara tersendiri untuk membangunkan kami dari tidur siang bolong hari itu. Dan kami berhasil bangun dengan wajah yang hampir tidak karuan.

Setelah itu kami bergegas untuk membersihkan wajah yang kelihatan lecek akibat tidur terlalu lelap. Dan kami pun berbincang layaknya ibu yang sudah lama tidak bertemu dengan anaknya. Waktu menunjukan pukul 13.00 WIB. Karena sudah adzan, kami memutuskan untuk sholat Zuhur terlebih dahulu

Ya sekarang adalah saatnya untuk kembali pada tujuan awal kita, yaitu membuat tugas Seni Tari untuk tingkat SMK. Dan kami pun memutuskan untuk memilih lagu till the world ends, lagu dari Britney Spears yang lagi nge-hitz dikalangan remaja saat itu.

Rasa lelah pun sulit dipungkiri saat kami selesai latihan, seiring dengan video Seni Tari yang telah kami selesaikan. Tepat pukul 17.00 WIB kami kembali ke rumah masing-masing, yapppps karena kami ingin selalu jadi anak yang disiplin dan sampai di rumah tepat pada waktunya. Karena rumah Indah searah dengan ku, jadi aku memutuskan untuk pulang dengan dia. Setelah menghabiskan waktu hampir 45 menit, akhirnya tibalah aku dan Indah di rumah. Tak lama setelah pamitan dengan ibu ku tercinta, Indah pun pulang. Dan membutuhkan 30 menit lagi dari rumah ku untuk benar-benar sampai di rumah nya.

“nisaaaa, jangan lupa matikan lampunya sebelum tidur nak!” teriak ibu.
“iya ibu, nanti aku matikan lampunya” jawabku.


Seperti 2 hari sebelumnya, hal yang rutin aku lakukan setiap malam adalah mendengarkan musik melow layaknya kaula muda yang sedang galau. Lagu terakhir yang sayup-sayup kudengar sebelum tidur Kangen sebuah lagu dari Dewa 19.
Created by Nisa Murni Cahyati

Minggu, 23 Februari 2014

Kepadamu Mentari

Kepadamu...
Mentari yang selalu menemani siangku

Ingin rasa menggapaimu
Namun apadaya?
Untuk mendekat denganmu pun aku tak bisa

Ingin sekali melihat indahmu dari dekat
Namun untuk melihatmu dari kejauhan pun sulit bagiku

Bagaikan komet yang tidak bisa berjalan pada orbit untuk mengelilingimu
Bagaikan debu yang tak lama akan tersapu

Itulah aku...
Yang takut akan perasaan mulai lebih ini padamu
Itulah aku...
Yang senantiasa hanya melihatmu dari kejauhan
Itulah aku...
Yang hanya dapat mengagumi indahmu

Mungkin aku tak punya sedikit keberanian untuk itu
Mungkin juga tak punya nyali untuk bisa dekat denganmu

Aku hanyalah wanita tanpa nama
Yang takut akan memberitahu tentang perasaanku

Kepadamu...
Mentari yang selalu tersenyum dari kejauhan


Created by: Nisa Murni Cahyati