“Eh gue belum ngerjain pr pelajaran Akuntansi nih, lo
udah yu?” Tanya ku kepada Ayu yang pada saat itu adalah teman sebangku ku.
“Hem udah sih tapi banyak yang gue nggak ngerti, jadi
gue lewatin gitu aja deh. Nih!” Jawab ayu sambil memberikan buku tugas nya
kepadaku.
Aku langsung mengerjakan
dengan sangat terburu-buru, karena mata pelajaran Akuntansi ada di jam pertama.
Ternyata bolpoin yang aku gunakan
saat itu habis dan tak lama aku segera bergegas ke Koperasi sekolah yang berada
di lantai satu. Sesampainya di Koperasi sekolah, aku langsung menuju ke tempat bolpoin dan langsung membayarnya di
kasir. Tak sadar ada seorang teman ku dari jurusan lain yang memanggilku,
tetapi aku tak menghiraukannya karena mengingat beberapa menit lagi aku harus
berada di kelas dengan pr yang sudah aku selesaikan.
Jam pelajaran pertama
dan kedua telah berakhir. Anak-anak pun bersorak, layaknya terbebas dari suatu
masalah. Yappp begitulah kiranya pelajar yang mendengar pelajaran kosong
setelah pelajaran pertama dan kedua. Berbagai macam aktivitas pun dikerjakan
para siswa/siswi di kelas ini. Ada yang tidur entah semalam suntuk harus
begadang, ada pula yang memasang earphone
dengan volume full supaya tak ada lagi yang terdengar selain lagu yang ia
putar, ada juga yang bermain True Or Dare
bersama setengah isi kelas. Saat itu aku bersama segerombolan anak yang bermain
True Or Dare. Cara permainan itu
sangatlah mudah, semua orang yang terlibat dalam permainan tersebut harus
membentuk satu lingkaran dengan tak ada celah. Setelah membentuk satu lingkaran
kami langsung memutar botol minuman ringan apa saja. Kami menunggu sampai botol
tersebut berhenti berputar dan menunjuk ke salah seorang yang dijadikan sebagai
target dan harus memilih True Or Dare dalam
permainan tersebut.
Botol itu menjatuhkan
pilihan targetnya pada Cahaya. Cahaya bingung harus memilih True Or Dare, akhirnya dia memutuskan untuk
jujur yaitu True. Berbagai macam pertanyaan pun dilontarkan teman-teman yang
ikut serta dalam permainan tersebut. Salah satu pertanyaan yang harus Cahaya
jawab jujur adalah...
“Apakah kamu suka dengan salah seorang yang ada di kelas kita ya?” Tanya
salah satu teman ku.
Cahaya bingung harus
menjawab apa, karena itu adalah suatu hal yang sifatnya privasi. Tapi apa boleh buat, ini hanyalah permainan. Di awal
permainan, kami sudah setuju untuk tidak memberitahukan kepada teman yang lain
yang tidak ikut serta dalam permainan ini.
“Aduh.....mampus gue! Sumpah parah! gue bingung harus jawab apa ke kalian.
Tapi setelah ini orang yang gue sebut namanya harus biasa aja ya sama gue.”
Jawab Cahaya dengan wajah memerah.
“Iyaaaaaaaa...............” Dengan kompak kami menjawabnya.
“Sebenernya sejak pertama kali gue masuk di kelas ini emang ada satu orang
yang gue kagumin. Dia adalah........ ah! Tapi gue malu sumpah.“ Sahut Cahaya
yang menahan jawabannya sejenak.
“Ihhhh siapa sih ya? Kita kepo nih. Udah nggak apa-apa bilang aja ke kita,
lagian ini kan cuma permainan hehehe.” Jawabku agak memaksa.
“Iya cahaya, bener tuh kata Nisa. Buruan bilang aja yaaa!” Teriak Ridi.
“Huhhhh iyaiya nih gue jawab. Dia itu ada sama-sama di permainan ini,
namanya.........Ahmad.” Jawab Cahaya dengan muka yang lebih memerah, kali ini
tepat seperti kepiting rebus.
Semua anak-anak pun
terkejut mendengarnya, terlebih Ahmad karena dia yang selama ini diam-diam tersimpan
di hati Cahaya. Rahasia yang selama ini Cahaya kubur dan tak ingin ada seorang
pun yang tahu apalagi Ahmad, orang yang selama ini dikaguminya di kelas
akhirnya telah mengetahuinya. Permainan pun dilanjutkan, sekarang saat nya
botol tersebut menuju kepada Bahru. Dan dia lagi-lagi harus memilih True Or Dare. Kali ini tetap pada
pilihan jujur. Pertanyaan nya adalah...
“Kamu lagi deket sama siapa sih di kelas ini? Terus ada perasaan nggak sama
cewe yang lagi deket sama kamu sekarang ini?” Tanya Aqila.
Pertanyaan yang membuat
aku sedikit tidak nyaman. Beberapa teman menyuruhnya langsung menjawab
pertanyaan tersebut dengan jujur tanpa ada basa-basi. Dengan muka memerah Bahru
pun menjawab...
“Gue lagi deket sama.......Nisa. Perasaan gue deket
sama dia hmmm seneng.” Jawabnya dengan lantang sambil melihat ke arah ku.
“Oalah ini tohhhh, ciyeeeee hahahaha muka kalian jadi
merah gitu sekarang.” Seru anak-anak yang langsung meledek aku dan Bahru.
Rasanya aku terkena heart attack saat itu. Sekarang seluruh
teman sekelas ku jadi tahu kalau aku dan Bahru dekat. Bel istirahat pertama
sudah terdengar, lalu kita semua mengakhiri permainannya. Anak laki-laki terus
saja meledek aku dan Bahru, beberapa juga meledek Cahaya dan Ahmad. Tetapi
karena aku hanya menganggapnya sebatas teman, jadi aku tidak menghiraukannya.
Seluruh siswa/siswi penjuru sekolah bergegas untuk mencari makanan. Ada yang
sengaja membawa bekal dari rumah, ada pula yang harus ke kantin untuk membeli
makanan yang akan ia makan selama istirahat pertama.
Kriiiingggggggggggg...
Bel masuk pun berbunyi. Sekarang adalah pelajaran Bahasa Inggris yang diajarkan
oleh wali kelas ku. Beliau agak telat memasuki ruangan kelas, dan seperti biasa
anak-anak mulai sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Tak lama kemudian wali
kelas yang juga guru Bahasa Inggris pun datang.
“Assalamualaikum,
selamat pagi anak-anak.”
“Pagi
pakkkk!” Jawab seisi kelas dengan suara lantang.
Seperti
biasa sebelum masuk kelas biasanya beliau memberi arahan tentang koordinasi kelas
kami. Tak terasa satu jam pelajaran pun telah selesai. Terlihat wajah anak-anak
yang tidak enak dipandang. Akhirnya wali kelas kami menanyakan kepada kami dan
meminta agar kami mengeluarkan selembar kertas kosong.
“Bapak lihat di wajah kalian banyak sekali masalah. Oke coba sekarang
keluarkan selembar kertas terbaik yang kalian punya!” Pintanya kepada kami.
Anak-anak langsung
mencari kertas terbaik permintaan wali kelas kami tersebut. Setelah semua siap dengan kertasnya, ada satu
permintaan lagi darinya.
“Sekarang kalian tuliskan masalah apa saja yang sedang kalian hadapi.
Sesulit apapun masalah itu harus kalian tuliskan. Jangan sampai teman sebangku
kalian tahu apa yang kalian tuliskan. Semuanya konsentrasi dengan kertas nya
masing-masing ya nakkk. Hanya kamu, bapak dan Tuhan yang tahu. Dan jika bapak
menemukan solusi dari masalah kalian tersebut, insyaAllah akan bapak bantu
selesaikan.” Jelasnya.
Kebetulan memang aku
sedang mengalami masalah dalam percintaan ku. Aku langsung menuliskannya~
Saat ini aku sudah punya
pacar, dia adalah Bagus. Kami jadian sejak aku menduduki bangku SMP. Sampai
sekarang kami masih menjalin hubungan, walaupun berbeda sekolah. Saat ini aku
adalah siswi SMK dan ia adalah salah satu siswa SMA Negeri di Jakarta. Kami
mulai ada masalah sejak sekolah kami berbeda, dengan kesibukan masing-masing
aku dan Bagus menjadi jarang mempunyai waktu untuk bertemu. Komunikasi pun
hanya seperlunya. Aku mengerti karena kita sudah berbeda sekolah tidak seperti dahulu
saat kami masih duduk di bangku SMP, dimana kita selalu pergi bersama dan
menghabiskan waktu bersama-sama.
Lalu saat ini ada Bahru
teman sekelasku yang selalu memberikan semua perhatiannya kepadaku. Mulai dari
kami yang selalu belajar bersama, dan ia selalu membantu ku jika aku mengalami
kesulitan dalam pelajaran sekolah. Hingga pernah sesekali saat beberapa anak
bermain di rumah Aqila, yang saat itu aku sedang ada kegiatan ekstrakulikuler
di sekolah. Bahru datang untuk menjemputku di sekolah dan langsung beranjak
pergi ke rumah Aqila. Setelah puas bermain dengan sebagian anak sekelas ku,
Bahru lah orang yang mengantarku pulang. Di hari-hari berikutnya aku dan Bahru
semakin dekat, dia lah orang yang selalu ada untuk mengisi kekosongan ku saat
itu. Apakah ini sebuah ujian kesetiaan
terhadapku?
∞∞